Assalamu’alaykum wr.wb.
Pagi hari di penghujung bulan Maret. Sayup sayup azan terdengar merdu di telingaku membangunkan alam agar bersiap bermunajat menemui sang Kekasih. Sabtu itu, adalah awal dari langkahku mengikuti Sekolah Strategi. Aku merasaakan aura yang berbeda di sini. Rasanya, kujalani semua yang terjadi hari itu dengan senyum, ikhlas dan senang hati.
Panitia mengawali acara dengan games ringan. Entah memang sengaja untuk penyegaran atau sekadar mengisi waktu sembari pembicara datang, yang jelas ini menyenangkan. Setelah Bapak Darmawan Sigit, ex-DP BLM memberikan sambutan, menjabarkan tujuan Sekolah Strategi ini diadakan, saatnya acara inti yang diisi oleh Bapak Darmawan Aji, sang kakak.
Bapak yang satu ini memang ternyata mengesankan dalam mengantarkan materi inti yang akan disampaikan nantinya. Kami yang hadir di ruangan di salah satu gedung Bea Cukai itu diajak untuk sedikit mengembalikan ingatan tentang pelajaran Biologi dulu. Kami dikenalkan lebih dekat dengan otak. Kurang lebih beginilah yang bisa kuserap dari performa beliau.
Otak kita terbagi menjadi tiga bagian yaitu neo cortecs di bagian teratas, sistem limbik yang berada di tengah serta otak reptil atau yang sering kita kenal sebagai batang otak yang berada di bagian paling bawah dan berbentuk seperti batang. Masing-masing bagian memiliki peranannya sendiri. Batang otaklah yang berfungsi untuk perintah “lawan” atau “lari”. Apa yang kita pikirkan akan berpengaruh pada emosi yaitu apa yang kita rasakan. Apa yang kita pikirkan dan inginkan, alam akan membantu kita untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, berpikirlah positif, rileks dan tersenyumlah selalu. Hanya itu syarat agar apa yang terdengar oleh telinga kita dapat diserap dengan baik.
Terkadang dalam lingkungan kita sehari-hari kita temui orang-orang yang kita nggap berbeda bahkan “gila”. Tapi jangan pernah memandang hanya di satu sisi karena biasanya orang yang sukses adalah orang yang dianggap tidak normal dan berani berinisiatif. Lihat saja para ilmuwan yang dikenalkan kepada kita sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Mereka adalah orang-orang yang tidak normal, dianggap aneh dan berani berinisiatif.
Sering kita temui orang-orang yang melakukan sesuatu tapi tidak tahu mengapa dia melakukannya. Inilah yang menyebabkan ketidaksuksesannya. Untuk meraih kesuksesan, dibutuhkan 4 tahapan yaitu menentukan tujuan, melakukan tindakan, peka terhadap hasil dan fleksibel. Agar apa yang kita lakukan memiliki makna dan bermanfaat serta tepat, kita harus menentukan tujuan terlebih dulu. Tujuan yang baik syaratnya hanyalah sederhana, konkret dan ekologis (selaras). Setelah itu langsung saja bertindak, mencoba, praktikkan. Jangan ada pikiran-pikiran takut gagal menghambat perjalanan kita untuk meraih tujuan itu. Lalu, kita juga harus peka terhadap hasil atas tindakan kita tersebut. Jika hasilnya kurang pas, inilah yang kita butuhkan yaitu fleksibilitas. Cobalah mempraktikkan cara lain untuk mencapai tujuan kita tersebut. Jangan saklek, kaku karena justru akan membuat langkah kita tersendat-sendat bahkan mati, akibatnya tujuan tidak akan pernah tercapai.
Otak kita ini pun mengontrol emosi. Fakta yang ada akan diterima oleh otak kemudian diresponlah ia. Akhirnya menimbulkan persepsi yang akan mempengaruhi emosi kita baik marah, sedih, senang, biasa saja dan lain-lain. Jika kita menghadapi suatu fakta yang mungkin kurang baik, berpikirlah secara sederhana, ubah persepsi kita mengenai fakta yang kurang baik itu menjadi fakta yang memang seharusnya terjadi agar kita menjadi lebih baik, dengan demikian persepsi itu akan mempengaruhi emosi yang semula mungkin marah atau sedih menjadi ikhlas dan lapang dada. Misalnya, ada seorang pengusaha yang bangkrut. Wajarnya, pengusaha itu akan stres, sedih bahkan apa yang ada di sekelilingnya terasa mengancam dirinya. Tapi, pengusaha ini tidak normal, dia ubah persepsinya dengan berpikir bahwa dengan usahanya yang gulung tikar ini dia bisa belajar bagaimana agar usahanya tidak mengalami kejadian yang sama untuk kedua kalinya bahkan memulai usaha baru yang nantinya akan sukses besar. Nah, dengan persepsinya yang demikian, hatinya akan ikhlas dan sabar menerima fakta yang ada dan bahkan semangatnya justru kian bertambah, ide-ide bermunculan untuk memulai usaha baru yang lebih kreatif, inovatif dan menjanjikan.
Ada tiga cara untuk mengubah persepsi yaitu mengubah strukturnya, mengubah maknanya dan mengubah konteksnya. Sebenarnya, ketiganya dapat diterapkan sendiri tanpa harus datang ke terapis.
Jadi, untuk mengontrol emosi kita hanya perlu mengandalkan otak karena apa yang kita rasakan itu bergantung pada apa yang kita pikirkan. Jika kita ingin sukses beranilah mencoba sesuatu yang berbeda, jangan takut gagal karena itu wajar. Kita hanya perlu untuk tidak berputus asa, berpikir positif karena alam akan membantu kita tanpa kita sadari, perbanyak berdoa karena apa pun yang kita usahakan tetaplah Allah yang berkuasa menentukan dan tersenyumlah karena dengan senyum kita menjadi mudah bersosialisasi. Jangan takut dianggap tidak normal, ya! Pssssttttt...orang sukses selalu dianggap tidak normal sebelumnya, kan.
Kemudian, aku pun pulang membawa semangat bertubi-tubi, berlipat ganda. Dianggap tidak normal? Tidak masalah, yang penting Ibuku ridho, Bapakku ridho, Allah pun ridho dan aku pun sukses. ^^
Wassalamu’alaykum wr.wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar